AD (728x90)

  • 2793 Pine St

    2793 Pine St

    Nulla facilisi. Cras blandit elit sit amet eros sodales, non accumsan neque mollis. Nullam tempor sapien tellus, sit amet posuere ante porta quis. Nunc semper leo diam, vitae imperdiet mauris suscipit et. Maecenas ut neque lectus. Duis et ipsum nec felis elementum pulvi...

  • 1100 Broderick St

    1100 Broderick St

    Nulla facilisi. Phasellus ac enim elit. Cras at lobortis dui. Nunc consequat erat lacus, a volutpat nisi sodales vitae. Phasellus pharetra at nulla in egestas. Vestibulum sit amet tortor sit amet diam placerat tincidunt sit amet eget lorem. Phasellus ...

  • 868 Turk St

    868 Turk St

    Nulla facilisi. Phasellus ac enim elit. Cras at lobortis dui. Nunc consequat erat lacus, a volutpat nisi sodales vitae. Phasellus pharetra at nulla in egestas. Vestibulum sit amet tortor sit amet diam placerat tincidunt sit amet eget lorem. Phasellus posuere posuere fel...

  • 420 Fell St

    420 Fell St

    Sed at vehicula magna, sed vulputate ipsum. Maecenas fringilla, leo et auctor consequat, lacus nulla iaculis eros, at ultrices erat libero quis ante. Praesent in neque est. Cras quis ultricies nisi, vitae laoreet nisi. Nunc a orci at velit sodales mollis ac ac ipsum. Na...

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 September 2013

Sebuah Jaket Berlumur Darah


Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata












Taufik Ismail

Sabtu, 14 September 2013

“Berapa Banyak Sholat Yang Kamu Tinggalkan Nak?”





1379212812536800457

Senja itu dalam rintik gerimis yang cukup membuat badan memggigil aku terus memacu motor bututku yang bersuara cempreng. Gundah yang menggelayut dalam benak dan pikiran membuat aku ingin terus berkendara dengan tujuan melepas beban pikiran. Beban dan tuntutan kehidupan begitu berat aku rasakan menghimpit hati yang berusaha untuk tetap tegar, tapi tetap saja tak jarang hilang kendali. Menjelang maghrib hujan tak juga reda dan malah semakin deras titik air yang tercurah dari langit. Seakan langit turut menangis mendengar keluh kesah hati kecil ku.
Aku berhenti di sebuah halaman ruko yang sudah tutup untuk berteduh dan berhenti sejenak karena punggung yang terasa nyeri karena lama berkendara. Aku duduk di samping bapak tua yang sedang memilah hasil kerjanya seharian. Dia asik memilah botol bekas yang dikumpulkan di dalam karung yang berukuran besar sasmbil menghisap rokok kretek murahan yang bau asapnya membuat aku sesak nafas dan ingin batuk saat asapnya terbawa angin ke arah hidung ku,.
“malam pak, dapat banyak pak hari ini?” tanya ku berharap ada teman ngobrol.
Dia menoleh dan tersenyum kemudian menjawab “Alhamdulillah nak, cukup untuk membuat perut orang rumah terisi untuk besok.”
“bapak tinggal sama siapa saja kalau boleh tahu” tanya ku lagi.
“cuma dengan istri bapak saja, anak sudah ikut suaminya dan tinggal di luar kota. Dan beginilah sampingan pekerjaan bapak dalam menjalani hidup.” jawabnya dengan santai dan tangannya masih sibuk memilah botol bekas.
“saya boleh tanya gak pak? tapi maaf sebelumnya kalau saya lancang jadinya” ucap ku sambil berusaha tersenyum.
“silahkan nak, bapak akan menjawab kalau bapak paham tentang pertanyaannya” jawabnya kemudian menghisap rokoknya. Dan tidak lama kemudian asapnya mengepul keluar dari mulutnya.
“maaf ya pak, yang pengen saya tanyakan adalah dengan pekerjaan bapak yang seperti ini apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan bapak dan keluarga?” tanyaku dengan suara yang agak pelan karena takut membuat si bapak tua itu tersinggung.
Kemudian dia merapikan karungnya dan beringsut duduknya agar lebih dekat dengan aku. Dia menatap ku dengan selidik dan kemudian tersenyum simpul. Dia menghela nafas panjang sambil melihat kearah langit yang masih mencurahkan rintik air yangsepertinya belum mau berhenti.
“Nak” suaranya memecah keheningan diantara kami.
“Cukup atau tidak cukup itu bagaimana kita menyikapi. Kalau di padang dengan sekilas pandang, pasti semua tidak akan ada cukupnya” lanjutnya.
“maksudnya pak?” tanya ku agak penasaran sambil menekuk lutut ku agar menutupi bagian dada supaya terasa hangat dan terlindung dari dinginnya angin yang di sertai hujan.
“manusia tidak akan pernah merasa cukup nak, biarpun penghasilannya semilyar sehari mereka tidak akan pernah merasa cukup dan cenderung pengen mendapatkan yang lebih besar lagi. Patokan cukup itu standarnya adalah rasa syukur yang kita miliki. Seberapa ihlas kita menerima rizki dari Allah yang telah dicatatkan untuk kita” kemudian bapak tua itu berhenti sejenak sambil mengatur nafasnya.
“bapak boleh tanya ke kamu nak sedikit saja?” ujarnya sambil menatap mataku dalam.
“dengan senang hati pak, silahkan” jawab ku sambil tersenyum juga.
“dari tadi bapak melihat wajah kamu murung nak, sebenarnya bapak sudah bisa menebak arah pembicaraan kamu dengan bertanya kepada bapak. masalah kamu apa nak? siapa tahu baak bisa sedikit berbagi pengalaman tentang hidup dan himpitannya” tanyanya kepada ku.
Aku menghela nafas panjang sambil menundukkan kepala ku, ingin rasanya aku bercerita panjang lebar dan menumpahkan segala beban ku kepada bapak tua ini agar lega dan bisa mendapatkan sedikit nasehat. Tapi aku tidak mau menceritakan semua masalah ku, dan aku memutuskan untuk menceritakan garis besarnya saja.
“masalah yang biasa pak” ucap ku masih sambil tertunduk. “penghasilan kecil tapi tanggung jawab sangat besar bagi seukuran orang seperti saya” jawab ku tak lama kemudian.
“Nak, tidak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya. Tapi karena kebingungan, orang cenderung tidak bisa melihat jalan keluar yang datang bersama masalah tersebut. Dan gak ada masalah yang melebihi batas kemampua. Dan kamu nak, diberi ujian seperti itu untuk mendewasakan kamu dan Allah tahu kamu bisa melewatinya. Tapi maaf, mungkin kamu terlalu sibuk dengan masalah yang datang sehingga lupa untuk mendekati yang memberikan kamu masalah itu sendiri yaitu Allah. Dan kecenderungan untuk mengeluh itulah sebenarnya yang membuat beban semakin terasa berat dan menyesakkan dada” jawaban bapak tua itu dengan lembut dan penuh nasehat.
“sudah bertahajjud atau menangis dihadapan Allah nak?” tanyanya.
mendengar pertanyaan itu aku terhenyak dan tersadar betapa banyaknya shalat yang aku tinggalkan. Dan sering kali aku dengan sengaja meninggalkannya karena rasa malas karena berfikir “aku sholat siang malam juga kehidupan ku tidak membaik”. itu terus yang sering terdengar membisiki hati dan pikiran ku.
“Belum pak, dan saya sering meninggalkan sholat” jawab ku dengan tertunduk malu.
“nah, bagaimana kamu mau mendapatkan pertolongan Allah nak kalau kamu tidak memintanya dan kamu malah menjauh dari Allah. ingat nak, orang yang dekat dengan Allah maka akan dekat pula dengan pertolongan Allah” jelasnya sambil tetap tersenyum kepada ku.
“memang, tujuan sholat bukanlah agar kita menjadi kaya atau kita lepas dari segala permasalahan. karena sholat adalah kewajiban kita sebagai mahluk. Tapi dengan sholat, kita menjadi dekat dengan Allah dan dekat pula dengan petunjuknya. dekat pula dengan pertolongannya nak, lepaskan semua beban mu dan serahkan kembali kepada Allah dan biar Allah yang mendatangkan bantuan untuk kamu. jangan pernah berputus asa, karena orang yang putus asa akan jauh dari rahmat Allah” jawabannya begitu menenangkan hati dan pikiran ku. Aku hanya bisa terdiam dan mendengarkan nasehat bapak tua si pemulung itu.
“jangan pernah ragu kepada Allah nak, karena Dia lah yang menciptakan kita dan yang menanggung rizki kita. pekerjaan tidak akan pernah bisa mencukupkan kebutuhan kita, tapi rasa syukur kita dan rahmat-Nya lah yang mencukupkan dan mengkayakan hati kita. Mintalah apa saja dengan sholat dan sabar maka Allah akan mengabulkannya cepat atau lambat.” lanjut pak tua si pemulung tadi.
“wah gak terasa udah malam nak, bapak harus pulang. takut istri bapak khawatir nunggu bapak di rumah” ucapnya membuyarkan keheningan ku.
“iya pak, dan terima kasih untuk nasehatnya yang indah ini pak. saya mendapatkan ketenangan dari nasehat bapak tadi” jawab ku dengan tersenyum dan kemudian menyalaminya.
“pulanglah nak, dan sholatlah. Insyaallah akan terjawab semua kegelisahan kamu. bapak pamit dulu Assalamualaikum” kemudian dia mengangkat bawaannya.
“waalaikumsalam” jawab ku sebelum ahirnya dia berjalan membelah hujan yang masih turun dengan tubuh tuanya.
Seorang bapak tua yang pekerjaanya pemulung tapi dia begitu menikmati hidupnya yang menurut orang serba kekurangan. Tapi dia merasa tidak kekurangan dengan apa yang telah diberikan oleh Allah yang menurut orang lain sangatlah sedikit dan mungkin penghasilannya sehari sama dengan uang untuk beli pulsa sehari. Terkadang jawaban yang kita cari didapatkan dari orang yang biasa saja.
Malam semakin merangkak naik dan aku putuskan untuk pulang. Dalam perjalanan aku baru ingat kenapa tidak menanyakan namanya atau dimana bapak tua pemulung tadi tinggal. Namun aku beryukur telah di pertemukan oleh Allah dengan bapak tua tadi. Yang memberi nasehat meskipun aku belum mengenalnya dan tidak tahu siapa dia.
“Alhamdulillah” ucap ku dalam hati karena Allah telah memberi petunjuk dengan cara yang tidak aku sangka.

Minggu, 08 September 2013

Little Miss Sumbing: Cantik dari Hati, Bukan dari Mahkota

Karya asli : Rea @ykwaria
Terinspirasi Dari Film Little Miss Sunshine

Sejak lahir bibirnya Cantik memang berbeda dengan bibir anak-anak lainnya. Bukan sumbing, tapi bibir bawah dan bibir atas sama-sama tertarik ke atas dan ke bawah, hingga gigi dan gusinya terlihat jelas. Meski begitu para tetangga menyebutnya sumbing. Kini usia Cantik sudah sembilan tahun. Di usia sekecil itu dia sudah terbiasa dengan hinaan yang datang padanya karena memiliki bibir yang berbeda. Orang tuanya yang miskin sedang mengumpulkan uang untuk operasi bibirnya nanti. Sementara itu Cantik ingin membantu ayah ibunya mengumpulkan uang. Dia mendengar kalau ada kontes ratu kecantikan cilik, “Little Miss”, di kelurahan. Hadiahnya tak besar, tapi bagi Cantik itu sangat besar. Diam-diam gadis kecil itu pun ikut mendaftar bersama teman-temannya yang lain. Saat datang ke kelurahan, para panitia malah menertawakan dan menyuruhnya untuk tidak ikut kontes. Namun Cantik yang rasa percaya dirinya sangat tinggi, tetap bersihkeras untuk diberikan formulir. Setelah itu dia pulang dan menunjukkan formulir itu pada ibunya.

Hartati, Ibu Cantik, hanya bisa duduk terdiam lemas saat tahu anaknya pulang membawa formulir pendaftaran Little Miss di kelurahan. Sementara itu Cantik langsung masuk ke dalam kamar, dan menyalakan televisi 14 incinya. Gadis kecil itu menonton siaran ulang penobatan Miss World sambil memutar lagu kesukaannya di ponsel. Ia lalu mengambil bando berbentuk bintang dan memakainya, menganggapnya seperti mahkota di kepala ratu kecantikan. Setelah itu ia berjoged di depan televisi dengan gayanya sendiri. Dari balik pintu, Hartati mengamati tingkah anaknya, dan memandanginya. Tubuh anaknya itu gendut, pendek, kulitnya hitam, rambutnya keriting dan kemerahan, dan bibirnya berbeda dengan bibir anak lainnya. Hartati pun galau, harus melarang anaknya ikut kontes kecantikan atau membiarkannya saja. Malam harinya dia memberitahu suaminya. Karyo, suami Hartatik, malah tertawa terbahak-bahak saat tahu Cantik akan ikut Little Miss di kelurahan. Pria itu menyuruh Hartati membiarkan saja Cantik ikut kontes kecantikan itu. Dia ingin agar Cantik tahu tentang hidup yang sebenarnya, meski usianya masih sembilan tahun.

Seminggu kemudian, Cantik dan ibunya pergi ke kelurahan. Para tetangga menertawakan mereka karena melihat dandanan cantik yang terlalu menor, dan baju yang dipakainya juga kekecilan. Hartati yang malu, akhirnya mengajak Cantik masuk ke dalam gang sepi. Disana Hartati menghapus riasan wajah Cantik yang terlalu menor dan memarahinya.

“Sudah ibu bilang, jangan pake lipstik. Umurmu masih sembilan tahun.”

Cantik diam saja, meski dia tak suka ibunya menghapus lipstik tebal di bibirnya. Gadis kecil itu hanya bisa mengeluarkan amarahnya lewat napas yang dibuangnya. Disaat yang bersamaan, kancing bajunya di area perut copot karena tekanan kuat perutnya yang mengembung sedangkan bajunya kekecilan.

Hartati yang melihat itu hanya bisa berteriak, “Ya Ampun…….!”. Setelah itu dia mengambil peniti dari tasnya dan menjadikannya kancing untuk baju anaknya.

“Sekali lagi kau mengembungkan perutmu, kau gak akan bisa ikut kontes kecantikan, soalnya bajumu ini akan terbuka, dan perutmu yang gendut ini akan keluar. Gak ada ratu kecantikan yang perutnya gendut, Cantik!”Tegur Hartati.

Cantik hanya tertawa dan menganggap ibunya sedang bercanda. Hartati yang sudah lelah menasehatinya, akhirnya langsung membawa Cantik ke kelurahan.
Sampai disana, Cantik pun ditertawakan banyak orang yang memenuhi aula. Banyak yang berkomentar, “Si Sumbing ikut Little Miss? Ini bukan Little Miss Sumbing, Cantik!”. Meski begitu, Hartati berusaha menutup dua telinga anaknya dengan kedua tangannya, sambil menuntunnya ke meja panitia untuk registrasi.

Saat ibunya sibuk di meja panitia, Cantik masuk ke bilik peserta. Disana dia bertemu dengan para kontestan Little Miss lainnya. Hampir semuanya tidak ada yang segendut Cantik. Baju mereka juga bagus-bagus dan mahal-mahal. Sedangkan Cantik memakai baju bekas tetangganya yang berkancingkan peniti karena kekecilan. Dia lalu menengok sepatu yang dipakianya. Itu sepatu bekas yang dipungut ayahnya sebulan yang lalu, sesudah ditambal menggunakan lem besi. Rasa percaya diri Cantik tiba-tiba menurun. Gadis kecil itu memilih duduk di pojokan sambil memandangi teman-temannya yang sibuk berlatih menari, menyanyi, dan akrobatik. Datang seorang kontestan cilik dan mengolok Cantik, “Bibirmu jelek! Sumbing. Kenapa ikut?”
Cantik diam saja, meski wajahnya berkeringat deras karena malu bercampur marah. Tak lama kemudian muncul Sherly, satu kontestan yang duduk di sebelah Cantik, sembari sibuk memakan burger jumbonya. Cantik lalu menoleh ke arah Sherly, dan memandangi tubuhnya yang sama gendutnya dengan cantik. Cantik pun tersenyum lega, karena ada kontestan yang segendut dirinya. Setidaknya dia tak sendirian.

“Kita sama-sama gendut.”Ucap Cantik dengan tertawa ke arah Sherly,
Mata Sherly langsung terbelalak lebar, “Apa?
Sherly yang kesal lalu mengambil cermin dan menyuruh Cantik memegangnya. Mereka duduk bersebelahan dan bergantian memandangi wajah mereka di depan cermin.

Cantik yang awalnya tersenyum lega, pelan-pelan mengerutkan wajahnya, dan menangis saat tahu perbedaan antara dirinya dengan Sherly. Wajah Sherly cantik, sedangkan Cantik?

“Bibirmu sumbing!”Bentak Sherly yang lalu kabur karena melihat Hartati datang.

“Cantik, ada apa?”Tanya Hartati yang heran melihat anaknya menangis di pojokan. “Jangan menangis. Sebentar lagi giliranmu tampil di panggung!”

Cantik pun mengangguk dan mengusap air matanya. Setelah itu ia mengantri dengan kontestan lainnya, untuk tampil di atas panggung.

Rasa percaya diri Cantik kembali memuncak saat gadis kecil itu berada di atas panggung. Dia menari dengan gayanya sendiri. Sementara itu semua penonton tertawa dan mengoloknya. Apalagi ketika tiba-tiba baju Cantik sobek karena kekecilan dan gerakan tariannya yang berputar-putar. Perut gendutnya pun menyembul keluar. Ditambah sepatu yang dipakainya patah, hingga gadis kecil itu jatuh persis di tengah panggung. Penonton dan dewa juri lagi-lagi tertawa. Meski begitu Cantik bangkit dari jatuhnya, dan menuntaskan tariannya sampai selesai.

Di belakang panggung, Hartati diomeli Marina, sahabatnya. Marina tak habis pikir kenapa Hartati mengizinkan Cantik untuk ikut kontes kecantikan Litlle Miss, karena yang ada Cantik malah ditertawakan dan dibuat malu. Namun Hartati punya alasan tersendiri.

“Aku ingin anakku tahu kalau inilah hidup. Kadang kita dipuja, kadang kita dihina. Kadang kita disuka, kadang kita dibenci. Dia harus tahu kalau setiap pilihan selalu ada resikonya. Kontes ini pilihannya, jadi dia harus tahu resikonya. Dia harus belajar tentang penolakan atau kegagalan, karena dalam hidup ini kita tak selalu diterima ataupun berhasil. Anakku berbeda dengan anak-anak lainnya. Dia dihina sejak terlahir di dunia. Mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus tahu bahwa inilah takdirnya. Dimanapun dia berada, akan selalu ada orang yang menertawakan dan menghinanya. Aku tak mau anakku terus bersembunyi di dalam kamar agar dia aman. Dia harus keluar untuk tahu inilah dunia yang sebenarnya. Aku tak mau anakku menjadi penghayal, pemimpi, dan pemalu yang pengecut.”

Hartati lalu pergi meninggalkan Marina, dan menemui Cantik yang menangis di pojokan belakang panggung. Tak lama kemudian, panitia pun mengumumkan juara kelima sampai juara pertama yang menjadi Little Miss dan mendapatkan hadiah uang, mahkota dan piala. Tapi Nama Cantik tak masuk di dalamnya. Cantik kembali menangis di pelukan ibunya, namun itu tak lama, karena gadis kecil itu tiba-tiba memperlihatkan ekpresi yang biasa dan datar-datar saja. Dia bahkan mengajak ibunya untuk segera pulang.

Sepanjang perjalanan pulang, Hartati dibuat aneh oleh anaknya. Cantik terus saja menari dan menyanyi dengan cerianya, seolah-olah sudah melupakan apa yang sudah dialaminya. Sampai akhirnya gadis kecil itu jatuh di tengah jalan. Hartati yang tertinggal jauh di belakang, langsung berlari menghampiri anaknya, namun ada seorang gadis cantik yang sudah menolong Cantik. Gadis itu bernama Azzura, yang kecantikannya seperti bidadari. Cantik saja membelalakkan mata saat tahu gadis yang menolongnya itu.

“Kamu gak apa-apa, anak manis?”Tanya Azzura, sambil membantu Cantik berdiri.

“Gak apa-apa, Tante. Wah, tante cantik sekali.”Puji Cantik sambil mengagumi wajah Azzura yang cantik, rambut panjangnya yang indah, dan pakaiannya yang bagus juga wangi.

“Terimakasih Mbak, sudah nolong anak saya.”Ucap Hartati yang baru sampai, dan langsung membersihkan Pakaian dan rambut Cantik yang kotor.

Azzura hanya mengangguk dan tersenyum manis, lalu memberi Cantik sebatang permen lolipop.

“Ini untukmu.”

“Terimakasih Tante. Tante cantik sekali. Apa tante pernah ikut kontes kecantikan juga?”

Azzura tertawa dan menggelengkan kepala. “Gak pernah.”

“Kenapa?”Tanya Cantik dengan lugunya.

“Karena cantik itu dari hati, bukan dari mahkota.”Jawab Azzura sambil tersenyum dan mengerlingkan mata indahnya, lalu pergi meninggalkan Cantik dan ibunya.

Cantik diam saja dan melamun sambil memandangi Azzura yang sudah pergi jauh di belakang sana. Tak lama kemudian, Cantik tersenyum lebar memperlihatkan gigi dan gusinya, juga bibirnya. Setelah itu dia mengangguk seolah-olah memahami ucapan Azzura, lalu mengajak ibunya pulang ke rumah.

SELESAI

Sabtu, 07 September 2013

Sebaris Doa Di Balik Bilik Bambu


“ibu sudah makan?” tanya arif sepulang sekolah kepada ibunya yang tergolek sakit.

“belum rif, ibu belum bisa bangun” dengan suara lemah ibu arif menjawab.

arif bergegas hendak menyuapi ibunya yang belum makan. sudah menjadi rutinitas arif 3 tahun belakangan merawat ibunya yang sedang terserang penyakit yang cukup serius. kala di buka lemari makanan ternyata belum ada makanan. dengan cekatan arif mencuci beras dan memasaknya. sambil menunggu nasi masak, arif mengambil air dan mengelap tubuh ibunya yang pucat pasi.

“gimana sekolah mu nak” tanya ibunya kepada arif yang sedang mengelap tubuhnya.

“alhamdulillah bu lancar, sebentar lagi ujian bu” dengan tersenyum arif menjawab
.
“masalah uang sekolah bagaimana nak? uang bapak mu sudah habis untuk berobat ibu” berkaca kaca mata ibunya memandang arif.

“arif dapat kebijakan dari sekolah bu, ibu gak usah pikirin ya yang penting ibu sembuh” kata arif sambil berdiri merapikan tempat tidur ibunya.

“maafin ibu ya nak, ibu menjadi beban buat kalian” terisak ibu arif.

“semua sudah habis terjual untuk berobat ibu, maafin ibu ya nak sudah membebani kamu” lanjut ibu arif.

dalam hati arif menangis melihat kondisi ibunya yang tak kunjung sembuh. yang dia bisa hanya merawat ibu nya semampu dan sekuat tenaganya yang masih terbatas. sementara bapaknya sibuk mencari uang untuk biaya berobat ibunya.

“ibu jangan bilang gitu, sudah jadi kewajiban saya merawat ibu. sebagai bakti saya untuk ibu” jawab arif sambil memegang tangan ibunya.

kemudian arif menuju dapur dan menyelesaikan memask nasi dan sayur seadanya. saudara ibu bapaknya sudah tidak mau tahu akan keadaan keluarga arif. dan mereka terkesan menjauh karena takut di mintai pertolongan. arif  hanya bisa menghela nafas dan mengelus dada saat melihat sanak saudaranya menggunjing tentang keluarganya.

setelah semua tersaji, arif mengambil piring dan menuangkan nasi dan lauk seadanya. dia bawa kepada ibunya dan dengan sabar menyuapi ibunya. suap demi suap nasi di suapkan kepada ibunya. tak tahan arif melihat keadaan ibunya.

“ibu yang sabar ya bu, ini cobaan dari Allah buat kita” tersenyum arif berusaha menghibur ibunya.

“ini tandanya Allah sayang kita bu, Allah menguji kesabaran kita” lanjutnya dengan lembut
.
“iya nak, ibu sabar dan akan senantiasa sabar” kata ibu arif .

kemudian arif pun beranjak dari tempat tidur ibunya. dia mengerjakan pekerjaan rumah tangga menggantikan ibunya. mulai mencuci, nyetrika, masak dan lain sebagainya. anak laki laki usia 15 tahun yang seharusnya menikmati masa remajanya bermain bersama teman sebayanya namun harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. namun trak sedikit pun arif mengeluh atau menangis. dia mengerjakan semuanya dengan riang gembira. meskipun lelah setelah sekolah dengan mengayuh sepeda yang jaraknya 15 kilo meter dari rumahnya.

“bapak hari ini pulang ya bu” tanya arif sambil duduk di kursi bambu di samping ibunya.

“iya nak mungkin nanti malam” jawab ibunya lemah.

“sebentar lagi maghrib bu saya mau ke langgar, nanti sekalian mau jemput adik” ujar arif.

” jangan lama lama ya nak” pesan ibunya

arif bergegas menuju langgar yang tak jauh dari rumahnya untuk jamaah sholat maghrib. tubuhnya yang kecil nampak kelelahan karena seharian beraktifitas. matanya sayu menahan lelah yang di sembunyikannya. setelah menunaikan ibadah sholat maghrib arif bergegas ke rumah neneknya yang agak jauh untuk menjemput adiknya yang masih kecil. di tuntunnya adiknya menuju rumah dan mereka belajar berdua di samping ibunya yang tertidur.

“dik habis ini tidur ya udah hampir jam 9″ ucap arif kepada adiknya yang masih asik membaca buku.

“iya kak” jawabnya pendek kemudian menutup bukunya dan beranjak ke kamar.

kemudian arif beranjak ke kamar mandi ambil air wudhu dan menunaikan sholat isya. dia sholat dengan khusyu dan hikmat. di resapinya semua bacaannya sampai dia menangis tersedu sedu. di sujudkannya badannya kepada Allah tuhan seru sekalian alam. di pasrahkannya seluruh hidupnya kehadirat-Nya. setelah selesai arif berdoa dengan cucuran air mata

“ya Allah ya robb, hamba bersimpuh di hadapan Mu, menengadahkan tangan kepada Mu. hanya Engkau tempat hamba menyembah dan hanya Engkau tempat kami mohonj pertolongan. hamba mohon sembuhkan ibu hamba, berilah yang terbaik bagi beliau ampuni segala dosanya dan ringankan penyakitnya. tabahkan hati bapak dan kuatkan iman kami kepada Mu ya robb. tiada lagi suadara yang peduli dengan kami, bila Engkau juga tak peduli dengan kami, lantas kepada siapa lagi kami mohon pertolongan? dari bilik bambu reot ini hamba bersimpuh kepada Mu ya Allah. kabulkan  ya Allah. amin” arif menutup doanya dan mengusap air matanya.

malam itu arif begadang menuggui ibunya, memberi segala kebutuhannya. sampai mata lelahnya tak sanggup menahan kantuk dan tertidur bersandar di kursi bambu yang keras. tubuh kecilnya terlelap di bawa mimpi. matanya sembab berlinang air mata.

“terima kasih anak ku, semoga Allah melapangkan dan memberi segala cita cita mu” gumam ibu arif melihat anak sulungnya tertidur di kursi.

Kabar Dari Kematian

1378610255769565216 
Malam ini aku kembali menghabiskan malam-malam ku di depan komputer seperti hari yang lalu.  Jemariku mulai asik memainkan keyboard yang sudah menjadi teman akrab ku hampir separuh umur ku. Beberapa hari yang lalu santer broadcast di bbm tentang tanda kematian. Jariku pun segera memulai pencarian di google tentang berita itu. Dan tak berapa lama muncullah halaman yang persis seperti aku baca beberapa minggu yang lalu. Aku pun larut dalam membaca ku dengan tanda-tanda yang disebutkan dalam artikel tersebut. Ketika aku samapai pada sebuah tanda yaitu denyutan yang terjadi di tengah dahi, tiba-tiba dahi ku berdenyut dengan kencangnya.

“ya Allah” teriak ku tertahan.

Badan ku tiba-tiba gemetar dan tubuh ku mendadak menjadi dingin. Aku meneruskan membaca dan kembali satu tanda itu terjadi lagi, dan kali ini adalah denyutan di bawah pusar. Akupun semakin gemetaran gak karuan. Entah mengapa mendadak aku begitu ketakutan. Ya, ketakuta akan di jemput oleh kematian yang begitu aku lupakan selama ini. Aku yang selama ini mengira jika kematian akan mendatangiku di saat usia ku sudah lanjut. Sejenak kemudian tubuh ku lunglai dan jatuh tersungkur, tangisku pecah digelapnya malam yang dingin dan sendirian.

“ya Allah, apabila Engkau memanggil hamba secepat ini bekal apa yang akan hamba bawa menghadap Mu ya robb” isak ku sambil bersujud.

“hamba tak sanggup membayangkan gelapnya malam dalam kubur, terbaring sendirian tiada teman dan menahan semua siksaan balasan untuk amalan buruk hamba ya Allah” air mataku seperti air yang mengalir deras membasahi wajah ku dan menggenang di lantai.

Badan ku begitu menggigil dan gemetaran karena bayangan kematian yang sebentar lagi akan menjemput. Makanan pun tak mampu lagi aku telan dan kaki ku begitu gemetar untuk berdiri dan melangkah. Setiap terbayang terbaring sendirian di dalam himpitan tanah, tangis ku tak terbendung lagi. Dalam shalat ku pun takhentinya tangisan dan air mata yang keluar.

Di satu pagi aku beranikan bercerita pada teman ku
“mas, aku minta maaf kalau selama ini aku ada salah ya mas” kataku dengan suara gemetar pada teman ku.
“semua manusia pasti pernah salah, memangnya kenapa bilang gitu kaya yang mau mati saja” jawabnya kemudia.
“iya mas, aku mendapatkan tanda yang persis di tulis dalam sebuah artikel tentang tanda kematian mas” kata ku sambil mengatur letak duduk ku.

“dalam artikel itu di sebutkan tandanya dan jarak antara kematian dengan tanda sebelumnya yang muncul mas, dan kalau menurut tanda itu waktu ku tak lebih dari 3 hari saja mas” air mataku kembali mengalir setelah berkata menjelaskan.
“wah… jangan bikin takut ah” air muka mas Edy seketika berubah menjadi pucat pasi mendengarkan penjelasan ku.

“jangan terlalu percaya dengan hal itu, karena kematian itu hanya Allah yang tahu kapan kejadiannya dan kedatangannya pun mendaak” tegasnya menghibur. Tapi dalam hati aku merasakan ketakutan yang terpancar dari sinar matanya dan gemetar suaranya saat bicara.

“wallahu a’lam mas, semoga umur ku masih di panjangkan dan masih diberi waktu untuk bertaubat dan memperbaiki diri” kata ku lirih karena menahan tangis dan air mata yang terus mengalir dengan derasnya.
“tawakkal saja, hidup mati itu di tangan Allah. Dan lebih baik kamu sekarang shalat dan perbanyak dzikir” nasehat mas Edy kepada ku.
“iya mas, terimakasih sarannya” jawab ku pelan. Karena malam sudah semakin larut aku memutuskan untuk pamitan pulang.

Di sepanjang perjalanan pulang pikiran ku selalu terbayang akan kematian yang begitu menakutkan untuk ku. Kematian yang akan mengahiri kisah hidup ku di dunia yang fana ini. Semenjak kejadian itu aku menghabiskan hari ku dengan memperbanyak ibadah dan bersiap jika kematian itu datang menjemput ku.
Seminggu berselang rasa takut akan kematian tak juga surut. Sampai pada satu malam aku buka kembali internet untuk sekedar menambah wawasan tentang islam. Dan aku temukan artikel tanya jawab pada sebuah web yang mengatakan jika berita tentang tanda kematian itu adalah batil dan tidak ada dasar dari qur’an maupun sunnah Nabi. Perasaan ku terasa lega dan seperti keluar dari sebuah himpitan yang begitu berat untuk aku tanggung. Namun, terlepas dari semua itu kematian akan tetap datang entah itu kapan. Dan aku melakukan apa saja yang terbaik untuk menyambutnya.

“ya Allah…. jika Engkau tidak mentakdirkan hamba mati syahid membela agama Mu, maka takdirkanlah hamba mati dalam keadaan khusnul khatimah dalam islam dan iman” doa ku dalam setiap waktu sehabis shalat ku.
———————–*********————————
semoga dapat membawa hikmah bagi kita semua
karya Lyon Abiemanyu

Jumat, 06 September 2013

Jangan Ajari Aku Maksiat

Malam belum begitu larut sewaktu dinda melamun sendiri di teras rumah. Terbayang ucapan Jimmy untuk mengajaknya jadian dan pacaran. Terbersit dalam hatinya rasa takut karena terbayang gaya pacaran remaja sekarang yang begitu melampaui batas. Dan lamunannya buyar ketika hp yang di pegangnya berbunyi.

“assalamualaikum” sejenak setelah diangkatnya telpon itu.
“waalaikumsalam, ganggu gak dinda?” tanya suara yang telah akrab di telinga dinda.
“nggak kok jimm, lagi ngelamun aja di teras” sambung dinda lembut.
Terdengar suara tertawa dari suara yang di seberang “hehehehe pasti ngelamunin aku ya dind”.
“ih ge er…. siapa juga yang ngelamunin kamu” jawab dinda dengan entengnya.

Dinda segera beranjak masuk ke dalam rumah karena angin malam mulai bertiup kencang dan dingin. Segera dia masuk kamar dan menutup pintu kamar dan rebahan di atas kasurnya yang tertata rapi dan bersih.

“gimana dinda dengan ungkapan perasaan ku tadi siang” tegas jimmy dengan suara yang agak tertahan.
dinda sengaja diam sejenak agar membuat jimmy penasaran.
“halloo… kok diem dinda? lagi sibuk ya?” tanya jimmy gak sabar.

“gak kok lagi berfikir aja tentang ajakan kamu untuk pacaran, terus terang aku takut dengan pacaran. aku takut dengan gaya pacaran jaman sekarang yang kebablasan” jelas dinda dengan tenang.
“takut kenapa? kan gak yang macem macem dind… paling kita cuma jalan berdua atau mungkin nonton berdua” ujar jimmy menjelaskan.

“humhhhh emangnya kalau kita jalan berduaan kamu mau ngapain aja?” tanya dinda penuh selidik.
“paling ya cuma gandeng tangan kamu atau peluk bahu kamu kalau kita sedang jalan berdua” tukas jimmy dengan langsung.

Dinda mengambil nafas panjang dengan segala perasaan yang menggumpal dan rasa bimbang dengan penjelasan jimmy. Tak sanggup dinda membayangkan tubuhnya di sentuh oleh laki-laki yang bukan muhrimnya dan juga belum halal untuk dia.

“apa gak bisa ya pacaran tanpa sentuhan?” tanya dinda memecah kesunyian.
“hahahaha… ya mana asik pacaran gak gandengan tangan, kamu ini aneh banget ah dind” ujar jimmy sambil tertawa renyah.
“ya kan siapa tahu kalau pacaran tuh bisa gak usah saling sentuh, karena kan belum muhrim jimm” timpal dinda dengan lembut.

“iya juga sih dind… tapi gak papa juga kan kalau cuma gandengan tangan atau memeluk pundak kamu kalau lagi jalan berdua. biar romantis dan biar kita makin mesra dalam menjalani hubungan kita. Toh aku juga kan gak mungkin berbuat yang macam-macam” jelas jimmy beremangat.

“ohhh gitu ya” ucap dinda singkat.
“iya dinda, dan aku rasa itu gak akan menjadi masalah kan?” imbuh jimmy menjelaskan.
“beri aku waktu ya biar aku istiharoh dulu untuk memberi jawaban ke kamu, dan sekarang aku mau itirahat dulu dan kita sambung lagi besok, selamat malam assalamualaikum jimm” jelas dinda dengan lugas.
“waalaikumsalam selamat istitahat ya” kemudian jimmy menutup telponnya.

Dinda termenung sendirian di dalam kamarnya. Dia mengingat kembali penjelasan jimmy tentang pacaran dan bagaimana ketika jalan berdua. Pikirannya tak tentu arah karena dalam hati kecilnya juga menyukai jimmy seorang pribadi yang ramah. Tepat tengah malam dinda beranjak dari tempat tidurnya untuk beristiharoh memohon petunjuk kepada Allah, agar diberi ketetapan hati untuk menentukan yang terbaik.
Di pagi harinya yang agak mendung, sambil duduk di depan teras rumahnya, dinda segera menelpon jimmy untuk memberikan jawaban atas ungkapan perasaan jimmy kepadanya. Lama barulah diangkat telpon dinda oleh jimmy.

“assalamualaikum dind.. tumben pagi sudah nelpon” tanya jimmy dari seberang sana.
“iya jimm, maaf kalau aku mengganggu kesibukan kamu di pagi ini. biar segera jelas semuanya dan kamu tidak menunggu lagi apa jawaban aku untuk kamu jimm” sahut dinda dengan tenang.
“trus bagaimana dind jawaban kamu setelah istiharoh semalam?” tanya jimmy gak sabar.

Dinda menghela nafas menguatkan hatinya untuk memberitahu jimmy apa jawabannya.
“begini ya jimm…. setelah mendengar penjelasan kamu semalam dan setelah aku beristiharoh, aku tetapkan dalam hati ku kalau aku gak bisa menerima kamu sebagai pacar ku. tapi kita masih bisa menjadi teman seperti hari yang lalu jimm. Aku tidak mau bermaksiat jimm. dan jangan ajari aku bermaksiat. Biarlah aku di katakan tidak laku asal aku jauh dari maksiat meskipun itu hanya sentuhan kecil” jelas dinda dengan lembut agar tidak menyakiti perasaan jimmy.

“ya sudahlah dinda kalau memang begitu prinsip kamu, aku hormati dan hargai. dan semoga kamu mendapatkan seorang pria yang baik yang bisa menjaga kamu dan melindungi kehormatan kamu serta menjauhkan kamu dari maksiat. Terus terang aku belum bisa menjadi seperti itu, aku pengen pacaran seperti orang lain yang bisa jalan bareng dengan mesra” jawab jimmy dengan suara yang lemas karena sadar cintanya sudah di tolak oleh dinda.

“sekali lagi maaf ya jimm… dan maaf udah mengganggu waktu kamu” ujar dinda.
“gak ada yang salah dind.. pandangan kita yang berbeda, dan kamu tidak mengganggu aku kok” balas jimmy dengan hati yang patah.

“kalau begitu udahan dulu ya jimm, aku mau bantu ibu di dapur. assalamualaikum jimm” ujar dinda menyudahi pembicaraan.

“waalaikumsalam dinda” sahut jimmy menjawab salam kemudian telpon pun mati.

Dinda menarik nafas lega dengan keputusan yang diambilnya. Dia yakin pasti ada pria yang datang menjemputnya dan menjadikannya pendamping hidupnya tanpa harus pacaran yang dapat menjerumuskannya ke dalam kemaksiatan. Senyumnya mengembang dengan indah dan ringan karena telah melewati cobaan untuk keimanannya kepada Allah.

Rabu, 04 September 2013

Percakapan Terahir

malam ini terasa berbeda dengan malam malam biasanya. perasaan ku gundah seperti tak menentu dan kacau. tiba tiba hp ku berdering dengan ringtone lagu kesukaan ku going under.

“assalamaualaikum” sapa ku lembut

“waalaikumsalam” jawaban dari suara di sebeang sana yang sangat aku kenal

“gimana kabare le?” tanyanya halus dan lembut

“alhamdulillah baik mak” begitulah aku memanggilnya. emak., iya emak panggilan has orang desa kepada ibunya.

“emak sendiri gmana kabarnya? sehat kan mak?” tanya ku dengan sopan dan lembut

“alhamdulillah sehat le… tapi ya ngerti sendiri emak gimana keadaannya. emak dan bapak sudah tua sudah sakit sakitan” paparnya dengan suara hasnya yang begitu aku rindukan.

“alhamdulillah emak kalau sehat, saya selalu mendoakan emak dan bapak selalu sehat senantiasa” jawab ku dengan suara lembut tapi agak serak.

“kapan kamu nikah lagi le? mumpung emak masih hidup” timpalnya lagi dengan nada yang lain dari biasanya, ahir ahir ini memang selalu pertamyaan itu yang di tanyakan kepada ku.

“nggih.. sebentar lagi mak, minta do’anya mak semoga lekas terlaksana” sambil terasa berat menjawabnya. pertanyaan yang sama yang di tanyakan setiap kali menelpon.

“le.. besok emak mau ke rumah adik ipar mu, mau ada hajatan le. emak minta bekalnya punya nggak le?” tanyanya sambil ketawa dengan renyah dan merdu di telinga. sambil terdengar suara bapak yang batuk batuk di belakangnya.

“nggih… besok jam 9 saya transfer mak” jawab ku dengan candaan juga

“lha kok siang le? gak bisa pagian?” tanyanya lagi

“nggih gak bisa to mak, kan banknya aja buka jam 9 kurang seperempat” jawab ku lagi dengan sedikit menggoda emak.

” humh ya udah besok emak tunggu yo le, buat ongkos trus buat belanja mau bikin wingko buat oleh olehnya” jelasnya dengan antusias.

“siap 86 mak hehehehe” seloroh ku

“yo wes emak mau istirahat, kamu juga jangan sering begadang terus jaga kesehatang yo le. assalamualaikum” tutupnya dengan lembut dan penuh nasehat

“nggih mak, waalaikumsalam” jawab ku hangat

malam ini berlalu tanpa bisa aku memejamkan mata. ada rasa tak menentu yang hadir dan menyeruak dalam dada ku. mata ku nanar memandang langit langit kamar ku yang kusam. tak tenang rasanya hati langsung aku ambil hp dan ku buka aplikasi mig33 dan join di room di mana teman teman ku nongkrong. kami pun bercanda dan tak terasa adzan subuh menggema. aku pun bergegas bangun dan kemudian ke kamar mandi mengambil air wudhu dan melakukan sholat subuh. seusai sholat aku ambil al qur’an dan membacanya. setelah melakukan rutinitas pagi itu aku kembali merebahkan tubuh ku di atas pembaringan berharap bisa tidur. namun tak sejenak pun mata ku mau terpejam.
pukul 07:30 hp ku kembali berbunyi dan aku angkat

“assalamualaikum pak” ternyata yang telpon adalah bapak kali ini

“waalaikumsalam” terdengar suara bapak yang terdengar seperti kebingungan

“ada apa pak kok kaya kebingungan” tanya ku penuh selidik

“emak kecelakaan le, di tabrak motor dari belakang sepulang dari pasar” balas bapak dengan bingungnya

“lha keadaanya gimana pak” tanya ku sudah gak tenang

“bapak gak ngerti le.. bapak lagi setor barang ke tuban” jawab bapak

“nggih sampun saya tak telpon rumah pak” jawab ku gak sabar. tanpa ba bi bu lagi aku tutup telepon dan aku telpon adik iparku. sesaat kemudian

“mas……. emak kecelakaan” kata adik iparku dengan teriak dan menangis keras, sebelum aku tanya

“lha kecelakaan gimana? keadaanya gimana?” tanya ku dengan suara yang aku bikin setenang mungkin.

“gak tau mas.. di bawa ke rumah sakit. kepalanya berdarah semua” jawabnya dengan menangis. belum sempat aku selesaikan telpon dengan adik ipar ku, bapak menelpon kembali dan langsung aku angkat.

“le……………. emak sudah gak ada le” tukas bapak dengan suara tangisnya

“nggih pak, ihlas nggih pak” jawab ku pelan

“bapak gmana pun waktune emak di ambil oleh Allah pak. mungkin ini yang terbaik buat emak dan tadi emak sudah pamit pak” jawab ku seakan tak percaya. kemudian bapak menutup telponnya. aku pun terduduk terdiam di depan pintu kamar. terngiang kata ibu semalam “kok siang le” mungkin itu sebuah pertanda.

kilas balik 15 menit sebelum ibu meninggal, aku terduduk di tempat tidur dan tiba tiba ibu datang dengan berjilbab putih dengan wajah sendunya.

“le emak pamit ya le” katanya sambil duduk di tepi pembaringan ku.

“pamit gimana mak?” tanya ku kepada sosok yang menyerupai ibu dengan tenang

“emak sudah gak kuat le… titip bapak titip adik ya le, kamu yang paling lemes sifatnya di antara mereka, jadi penengah ya le gantiin emak” ujarnya dengan lembut

“nggih mak, mak yang tenang nggih mak” balas ku dengan senyuman.

 tak lama kemudian sosok emak itu pun pergi seperti di kawal dua orang. dan pergi meninggalkan ku yang masih terduduk di tempat tidur. terbayang kembali percakapan semalam dan rupanya itu adalah percakapan terahir dengan emak yang paling aku sayangi. namun aku cegah air mata ini jangan sampai menetes. karena hanya akan memberatkan langkah emak.

pukul 11 siang jasad emak di kebumikan di pemakaman umum di kampung halaman bapak. jam 15:30 dengan naik kereta malabar aku pulang enuju kampung halaman ku. berjubel karena pas dengan liburan nasional tanggal 1 juni. kereta api penuh sesak meskipun naik kereta api bisnis namun aku dapat tempat berditri di pinggir pintu depan wc bersama para tentara yang mau liburan. pukul 05:30 aku sampai di kota kelahiran ku setelah semalaman begadang di kereta dari bandung. sampai di rumah aku di sambut bapak dengan mata cekung karena menangis. di peluknya dengan erat aku oleh bapak.


“le, emak sudah gak ada lagi le” bisiknya lirih
“nggih pak, nggak usah di tangisi nggih pak” jawab ku menenangkan bapak. kemudian kami melangkah masuk ke dalam rumah. di dalam rumah di sambut adik ku dengan tangisannya yang tak tertahankan. 
di peluknya aku dengan tangisannya

“mas.. maaf ya mas gara gara aku emak meninggal” ucapnya dengan nada gemetar

“iya nggak papa semua sudah takdir dari Allah jangan di tangisi” jawab ku menenangkan adik ku

kemudian aku bergegas ke makam emak sendirian. karena sewaktu pemakaman aku masih ada di bandung

segera aku duduk di samping makam ibu dan berdoa

“ya Allah ya Robb Tuhan pemilik manusia dan pemilik alam semesta, hamba mohon ampuni segala dosa ibu hamba, ampuni segala kesalahan beliau dan lapangkan kuburnya berilah beliau tempat yang terindah di sisi Mu ya Robb.. amin” aku pun menutup do’a ku. dan kemudian aku berucap lirih

“emak… maafin anak mu belum bisa membahagiakan emak sampai emak di panggil Allah, maafin segala salah anak mu yang belum bisa menjadi anak yang berbakti ini” ucap ku

“akan aku penuhi segala amanah dari emak untuk menjaga bapak dan adik, hanya doa buat emak sekarang sebagai tanda bakti anak mu ini untuk emak” sambil aku tata tanah yang masih basah yang menimbun jasad emak tercinta ku. tak setitik air mata pun yang menetes dari mataku. karena aku tau setitik air mata bagaikan cambuk dari neraka yang menghunjam tubuh emak ku. aku sayang emak dan akan berbakti selamanya untuk mu emak.

Semoga Kamu Bahagia Dik

Pagi ini andi bangun pagi dengan tubuh yang masih letih karena habis menempuh perjalanan jauh dari pulau dewata. Di ambilnya kotak kecil oleh oleh sepasang anting yang bermatakan blue topaz yang gemerlap indah. Senyumnya pun merekah dan membungkus kotak kecil itu dengan selembar kertas kado dan pita. Di ambilnya pula hp yang selalu berada tak jauh dari tempat tidurnya.

dik enno, siang ini mas ke bogor tunggu di terminal ya” bunyi sms andi kepada enno. Enno adalah kekasih yang sangat andi cintai dan jaga sepenuh hatinya.

ya mas, kebetulan adik libur kerja hari ini dan nanti di jemput di terminal” balas enno.

Andi pun bergegas ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air yang dingin menusuk tulang. Mandi pagi yang tidak begitu di sukai oleh andi karena tak tahan dengan dingin yang selalu membuatnya flu. Namun hari itu dinginnya air tidak menyurutkan langkahnya untuk mandi pagi. Ke bogor menemui kekasih hatinya yang sudah lama tak berjumpa karena kesibukan. Bergegas dia keluar dari kamar mandi dan menuju ke dalam kamarnya. Di semprotkannya minyak wangi bvlgari sport kesukaannya ke seluruh badannya. Di pakainya baju yang baru di beli dan segera berdandan rapi.
Segera dia bergegas menuju terminal bus dan menaiki bus yang membewanya ke kota bogor.

“ya Allah lupa makan” gumam andi dalam hati. karena saking rindunya dengan Enno sampai lupa makan di pagi itu. Bayangan bertemu dengan kekasihnya sudah menngalahkan rasa lapar yang ada. Tepat 2,5 jam kemudian bus sudah merapat di terminal baranangsiang bogor yang becek sehabis di guyur hujan.

adik nunggu di mana, mas sudah sampai terminal” bunyi sms andi kepada enno
di depan mas di halte depan pintu keluar bus” tak ada semenit enno pun membalas sms.

Dan andi pun bergegas menuju ke halte yang di maksud enno. terminal yang becek di libasnya dengan berlari karena rasa rindunya yang sudah tak tertahankan. Beberapa saat kemudian di depannya sudah berdiri wanita yang sangat di rindukannya. Di pegangnya tangan enno dengan erat dan di elusnya kepala yang terbungkus jilbab.

“mas kangen dik udah 2 bulan gak ketemu” kata andi sambil tersenyum dan memandang penuh kerinduan.
“adik juga mas, ya namanya mas kan sibuk trus adik juga jarang libur” jawab enno dengan senyumnya yang indah.
“ya udah kita ke kost adik, ini udah mau hujan lagi.. banyak temen kan di kost?” tanya andi.
“banyak mas kebetulan pada masuk sore semua” jawab enno sambil terus tersenyum.
5 menit kemudian sampailah di kost enno dan di sambut oleh sapaan teman temannya yang lagi pada ngerumpi.
“kemana aja mas kok jarang banget keliatan? tar enno di ambil orang lho mas” seloroh dinda dari depan kamarnya.
“kebetulan lagi sibuk nih, ini juga baru pulang dari Bali dan ada urusan kerjaan di sana” jawab andi enteng.

Kemudian andi dan enno bergegas masuk ke dalam kost. Mereka berpelukan dengan erat melepaskan rasa rindunya. Pada saat itu andi merasa ada satu kejanggalan namun di pendamnya. Di keluarkannya kotak kecil yang sudah di siapkan dari rumah tadi.

“ini buat adik, oleh oleh dari bali dik… mas pilihkan untuk adik pasti adik suka” kata andi sambil menyodorkan kotak itu. Dengan segera enno membuka kotak itu dan di lihatnya sepasang anting batu blue topaz dengan bertahtakan perak berukiran has Bali.
“terima kasih mas bagus banget pasti mahal ya mas” kata enno
“nggak kok dik, harganya biasa saja kok” jawab andi pendek

Di dekatinya enno dan di peluknya enno di dekapan dadanya. Andi begitu merindukan kekasihnya yang selama setahun lebih menjadi kekasihnya. Di angkatnya wajah enno kemudian di kecupnya dengan mesra bibir enno.

“dik, mas mencintai adik. wanita lain tak mampu menggoyahkan sayang mas ke adik” ujar andi dengan tatapan mata penuh cinta yang tulus.
“mas tau, keadaan mas yang membuat bapak adik tidak meyetujui kita. tapi mas akan berjuang meyakinkan bapak adik kalau mas mampu membahagiakan adik” lanjut andi dengan lembut.
“iya mas” jawan enno singkat dan langsung membenamkan diri dalam pelukan andi.
“mas selalu berdoa dik supaya kita di satukan dalam ikatan pernikahan” bisik andi di telinga enno. Dan enno pun makin mengeratkan pelukannya dan menangis.

Tiba tiba enno menciumi bibir andi dengan isak tangis.
“maafin adik mas…. maafin adik” ucapnya dengan air mata yang makin berderai.
“ada apa dik kok minta maaf?” tanya andi heran.
“selama mas gak ada, adik berhubungan dengan lelaki lain mas. adik gak tau kalau di dekat dia gak bisa nolak dia dan keinginannya” jawabnya sambil menundukkan mukanya.
“oh…… gitu dik” jawab andi sambil tersenyum.

“mas paham dik dan mas gak papa kalau adik berhubungan dengan orang lain. Biar adik tau seberapa dalam sayang dan cinta mas ke adik. silagkan adik bandingkan cinta mas dengan cinta lelaki lain” jawab andi dengan lembut sambil mengusap kepala enno.
“ini lain mas, adik kebablasan mas” jawab enno dengan suara gemetar.
“lain bagaimana” tanya andi dengan suara gemetar namun di buat setenang mungkin.
“setiap sama dia, adik selalu berhubungan suami istri mas. adik sendiri gak mengerti kenapa adik begitu” jawab enno sambil sesenggukan.

“astaghfirullah” seketika wajah andi menjadi pucat. Mulutnya terasa getir dan tenggorokannya tercekat.
“adik hamil mas” dengan suara pelan enno berucap.
“ya Allah ya robb” andi tersandar lemas ke tembok dengan wajah yang pucat.
“tapi dia gak mau tanggung jawab mas, dia menyuruh menggugurkan janin ini” jelas enno
“jangan!!!!! jangan pernah gugurkan janin ini, dia gak berdosa. kalau dia tidak mau bertanggung jawab, biar mas yang menikahi adik” balas andi dengan agak keras.

“memang berapa kali melakukan hubungan suami istri sama dia dik?” tanya andi kepad enno
“hampir tiap hari mas, tiap dia datang dia selalu minta. dan adik seperti gak sanggup menolak dan selalu menuruti keinginannya” jawab enno dengan wajah yang semakin tertunduk.
“ya Allah” ujar andi semakin kecut dan hancur.
“dan adik sudah ada yang mau menikahi mas, adik ngerasa gak pantas buat mas” jawab enno dengan memandang mata andi.

“oh….. gitu dik” jawab andi dengan hati yang remuk redam. kekasih yang sangat di cintai dan di jaganya selama setahun lebih ternyata mengumbar syahwat bersama laki laki lain.
“mas boleh marah, mas boleh benci” tukas enno.
“dik, mas mencintai adik. apa pun yang terjadi mas tidak akan pernah membenci adik. ya udahlah kalau itu jadi pilihan adik mas ikuti saja. mas masih berharap mas yang menikahi adik” papar andi
“nggak mas, adik udah bilang ke bapak mau manikah sama orang lain” tutur enno.

di peluknya enno dengan erat di kecupnya kening enno dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“bukan cinta namanya kalau mas marah, bukan cinta namanya kalau mas membenci adik” kata andi dengan senyuman dan menatap mata enno. dan enno pun menangis tersedu sedu.
“mas doakan adik bahagia dan jadikan ini pelajaran untuk adik, jaga anak ini dengan penuh kasih sayang. semoga adik bahagia dengan orang yang adik pilih untuk menggantikan bapak dari bayi yang adik kandung. cepat nikah ya dik biar gak keburu besar perutnya” ujar andi penuh bijak kepada enno.
“sekali lagi maafin adik ya mas” kata enno sambil memegang  tangan andi yang lemah dan gemetar.
“tanpa adik minta, mas sudah memaafkan dik, semoga adik bahagia ya sayang” ucap andi lembut.
“terima kasih ya mas” jawab enno gemetar.

hari pun beranjak sore dan andi pun harus segera pulang. dengan bergandengan tangan mereka berjalan menuju ke terminal dengan hanya diam. hanya lewat genggaman tanganlah hati mereka bicara. Erat genggaman enno seakan akan dia mengucapkan berjuta kata maaf kepada andi yang dia tau sangat mencintai dan menjaganya sepenuh hati. Tatap mata mereka sesekali bertemu dan andi tersenyum dengan manis ke enno. Andi pun manaiki bus yang akan membawanya pulang. Di lihatnya kekasihnya melambaikan tangan dan mengantar kepergiannya dengan senyuman. Ya, senyuman yann selama setahun lebih menghiasi harinya. Remuk redam penuh luka dan sakit di dada andi pulang menuju rumahnya. Hidup yang sepi kembali akan di jalaninya.

“semoga kamu bahagia dik, doa mas selalu untuk kebahagiaan adik” ucap andi lirih sambil matanya menatap nanar ke luar kaca bus.

© 2013 Puisi Jalanan. All rights resevered. Designed by Templateism